Dinamika Pemikiran Imam Al-Ghazali

18‏/02‏/2011 · 0 comments

A. PENDAHULUAN.
Ulama adalah pewaris para Anbiya yang keberadaannya seperti lampu yang bersinar dikegelapan malam selalu di butuhkan umat dari generasi kegenerasi sosoknya selalu di rindukan, karya pemikirannya selalu ditunggu dan menjadi hujah dalam kehidupan muslim dari dahulu sampai sekarang ini, mengkaji tentang kehidupan para ulama dan gaya pemikirannya yang telah di kontribusikan kepada umat ini amatlah menarik untuk dipelajari dan dipahami serta diikuti, penulis kali ini akan mencoba berusaha menuangkan pemahamannya terhadap pemikiran sang pencerah umat '' imam Ghozali '' melalui buku-buku karyanya yang lebih dari lima puluh kitab hasil karyanya tersebut baik bidang teologi, palsafat, tasawuf, aqidah maupun ilmu Fiqih.
B. RIWAYAT SINGKAT AL-GHOZALI.
Imam Ghozali adalah seorang sosok intelektual yang memberikan kontribusi terus menerus kepada umat ini melalui buah pemikirannya yang dituangkan melalui buku-buku karangnya yang masih dapat kita nikmati sampai sekarang ini. Beliau seorang ulama yang mempunyai pemikiran jernih, pandangan luas, pandai membaca situasi, jitu dalam berpendapat sehingga menjadikannya seorang yang ditakuti oleh lawan di segani oleh kawan. Sosok seorang seperti imam Ghozali ini menjadi damba'an umat islam dunia karena dedikasi dan karya-karyanya dalam mengembangkan pemikiran Islam di berbagai bidang. Lebih dari lima puluh kitab hasil karyanya tersebar dalam katalog kitab klasik, baik di bidang teologi, palsafat, tasawuf maupun ilmu Fiqih Dalam wacana intelektual islam imam Ghozali adalah seorang ulama yang produktif dalam menuangkan buah pemikirannya kedalam kitab-kitab klasik sehingga namanya melambung tinggi dikalangan umat islam maupun dikalangan barat ,banyak buah karya beliau yang dikaji di timur dan barat dan dijadikan rujukan baik itu oleh cendikiawan muslim ataupun oleh orang orentalis terhadap ilmu palsafah.i Imam Al-Ghazali lebih dikenal sebagai ulama thasawuf dan akidah. Oleh sebab itu sumbangannya terhadap bidang palsafah dan ilmu pengetahuan lain tidak boleh dinafikan. Al-Ghozali merupakan seorang ahli Sufi yang bergelar '' Hujjatul islam ''ii Ayahnya tergolong orang yang hidup sangat sederhana sebagai pemintal benang, tetapi mempunyai semangat keagamaan yang tinggi seperti terlihat pada simpatiknya kepada ulama, dan mengharapkan anaknya menjadi ulama, yang selalu memberi nasehat kepada umat. Itulah sebabnya, ayahnya sebelum wafat menitipkan anaknya, Al-Ghozali dan saudaranya, Ahmad yang ketika itu masih kecil, kepada seorang ahli tasawuf untuk mendapatkan didikan dan bimbingan. Sosok kepribadian Imam Ghozali adalah seorang yang cinta terhadap ilmu pengetahuan, selalu penasaran dalam segala hal dan berusaha untuk mencari kebenaran, begitu mendalam kecinta'annya terhadap ilmu sehingga mendorongnya menggembara dan merantau dari satu tempat ke tempat yang lain
untuk berguru dengan ulama-ulama yang hidup pada zamannya. Sehingga tatkala ia berada di Baghdad, Al-Ghazali telah dilantik sebagai Mahaguru Universitas Baghdad, perlu kita ketahui bahwa Irak pada jaman tersebut menuai jaman kemasannya dalam bidang keilmuan baik dalam bidang ilmu tafsir, palsafah, fiqih dan lan sebagainya, sehingga banyak melahirkan ulama-ulama skeliber imam Syafii. Sudah menjadi fitrah manusia tatkala ia banyak menggeluti disiplin berbagai macam ilmu maka akan timbul suatu keraguan dari apa yang telah ia dapatkan, inilah yang dirasakan oleh beliau imam Ghozali terhadap ilmu-ilmu yang dipelajarinya seperti tentang hukum, teologi/ mantiq dan palsafah dan dari kegunaan pekerjaanya, dan karya-karya yang dihasilkannya, sehingga ia menderita penyakit selama 2 bulan, dan sulit diobati. Karena itu, Al-Ghozali tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai guru besar di madrasah Nizhamiyah. Akhirnya ia menimggalkan Baghdad menuju kota Damaskus. Selama kira-kira dua tahun, Al-Ghozali di kota ini, ia melakukan uzlah, riyadhoh, dan mujahadah. Kemudian ia pindah ke bait al-Maqdis, Palestina untuk melaksanakan ibadah serupa, setelah itu tergerak hatinya untuk menunaikan ibadah haji dan menziarahi maqam Rasulullah.sebagaimana yang tertulis dalam kitab beliau " Al- Munqidz min al-dhalal"iii

C. PEMIKIRAN IMAM AL-GHOZALI.
A. BIDANG TASAWUF.
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa beliau imam Ghozali adalah orang yang gigih dalam mencari ilmu pengetahuan. Ia berusaha sekeras mungkin agar dapat mencapai suatu keyakinan dan mengetahui hakikat segala sesuatu. Sehingga senantiasa ia bersikap kritis yang menjadikannya orang yang penuh dengan penomental dalam segala hal, yang dianatarnya pemikiran beliau mencakup dalam bidang tasawuf seperti dalam tasawufnya, Imam al-Ghozali memilih tasawuf sunni yang berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah Nabi, ditambah dengan doktrin Ahlussunnah WalJamaah yang kebangkitannya kembali dipelopori oleh al-Imam Abu al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari. Dari paham tasawufnya itu, beliau menjauhkan semua kecenderungan akal diatas segalanya dan kesesatan yang ditimbulkan bagi manusia yang tidak berpegang teguh kepada al- Quran dan as- Sunah Nabawiyah sehingga mereka keluar dari jalan yang lurus menuju kesesatan yang nyata dan juga beliau imam Ghozali menjauhkan tasawufnya dari pemahaman wahdatul wujud seperti tasawufnya al- Halaj yang telah terkontiminasi dengan gaya pemikiran filosof Yunani ( Aristoteles) pegabungan diri dan penyatuan kepada Tuhan, maka dari itu tasawufnya beliau al- Ghozali benar-benar bercorak islami.
Corak tasawufnya lebih di tekankan pada adab dan tatakrama serta mencakup didalamnya penghimpunan aqidah, syariat dan akhlak dalam satu wadah yang kuat dan berbobot karena tasawuf yang beliau cetuskan melalui pengalaman spiritual yang lahir dari kajian dan pengalaman pribadi setelah melaksanakan suluk dalam riyadhoh dan mujahadah yang intensif dan berkesinambungan, sehingga hemat penulis bahwa beliau dapat kita katakan seumur hidupnya ia bertasawuf.
Dalam pandangan tasawuf seandainya kita melihat kitab" Ihya Ulumuddin " ilmu tasawuf mengandung dua bagian penting" Yang pertama mencakup ilmu Mua'malah sedangkan bagian yang kedua mencakup ilmu mukasyafah (tersingkapnya segala rahasia) kemudian al-Ghozali mnyusun menjadi empat bab utama dan masing-masing dibagi lagi menjadi sepuluh pasal yaitu :
Bab pertama : Tentang ibadah.
Bab kedua : Tentang adat istiadat.
Bab ketiga : Tentang hal-hal yang mencelakakan
Bab keempat : Tentang maqomat dan ahwal.
Menurutnya, perjalanan tasawuf itu pada hakekatnya adalah pembersihan diri dan pembeningan hati terus menerus sehingga mampu mencapai musyahadah. Oleh karena itu ia menekankan pentingnya pelatihan jiwa, penempatan moral atau akhlak yang terpuji baik disisi manusia maupun Tuhan. Inilah corak tasawufnya imam al- Ghozali yang bersih dari khurofat serta penyelewengan seperti yang ada sebagian sufi saat ini, yang telah terkontaminasi serta dipengaruhi oleh unsur-unsur :
1. Memiliki sifat fanatisme terhadap syaikh-syaikh mereka dengan ajaran-ajaran.
2. Memohon pertolongan atau istighosah kepada para syaikh mereka.
3. Pengkultusan kuburan para syaikh mereka.
4. Sebagaian aliran sufi meyakini adanya wihdatul wujud ( menyatunya hamba kepada Allah swt. )
5. Aliran sufi suka bermain musik dan menari yang mereka namakan dengan gambus dalam dzikir.
Mungkin inilah sepintas kesesatan aliran sufi yang ada saat ini yang lahir dari penyelewengan yang diciptakan oleh para pengikutnya yang tidak bersumber dari imam-imam besar mereka seperti al-Ghozali, imam Zunaid.dan Hasan al-Bashori.
Yang aliran tasawuf mereka jauh dari hal-hal yang diatas.

B. BIDANG AQIDAH.
Aqidah adalah salah satu pondasi terpenting dalam agama islam, tidak sempurna ke islamannya seseorang apabila aqidahnya bertentangan dengan al-Quran dan as- Sunah aqidah yang baik adalah aqidah yang sejalan dengan dua pedoman hidup umat islam al-quran dan sunah,karena mereka para rasul-rasul Allah swt diutus kepada kaumnya masing-masing hanya untuk mendakwahkan tauhid (aqidah) yang satu bahwa " Tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali satu (Allah swt )"
Kemudian dijaman dewasa ini banyaknya aliran serta golongan dalam agama islam khususnya menjadikan umat ini terpecah menjadi beberapa golongan yang mengakibatkan masuknya pemikiran falsafah kedalam ilmu tauhid, tafsir ,akhlak dan disiplin ilmu lainnya, hal ini tidak terjadi dijaman Nabi ataupun sahabat karena mereka tidak berani memprosir pemikirannya didaerah terlarang yang telah Allah peringatkan melalui para utusannya, akan tetapi existensi umat kini telah terpancing oleh tipi daya orang-orang yang mempunyai tujuan agar umat islam ini masuk kedalam tempat perkara syubhat yang akan tergelincir masuk kedalam perkara haram. Laksana seorang penggembala di pinggir sebuah tempat larangan yang akhirnya lalai dan masuk ke dalam tembat larangan tersebut.iv" Hal ini masuk dalam permasalahan permasalahan teologi ada permasalahan-permasalahan yang sebenarnya hanya Allah lah yang mengetahuinya secara dzât. Namun sebagian ulama justru tenggelam dalam membahas permasalahan tersebut sehingga bermunculanlah aliran-aliran teologi sebagai ekses dari pembahsana tersebut. Seperti pembahasan mengenai sifat Allah, hakikat perbuatan manusia dan permasalahan samar lainnya yang ada dalam pembahasan Ayat-ayat mutasyâbihât, hal ini tentunya melahirkan perselisihan di antara para ulama. Ada di antaranya yang memperbolehkan untuk mentakwilkannya, sedangkan sebagian lagi tidak memperbolehkannya. Sehingga perbedaan pendapat tersebut berubah menjadi madzhab. Satu contoh perbeda'an antara madzhab salaf dan khalaf tentang aqidah esensi Allah swt. Didalam sebuah pertanyaan" Dimanakah Allah swt?
Tentunya bagi orang yang pernah terjatuh kedalam dunia filsafah sepertinya akan membawa sedikit banyaknya akal kedalam tempat larangan Allah dengan menjadikan akal diatas segalanya dan berusaha bersifat kritis untuk menopong pendapatnya, walaupun argument yang mereka lontarkan hanya dengan logika akal semata. Namun bagi mereka yang berpegang teguh kepada salafus sholeh mereka akan mengikuti pendahulnya para sahabat Nabi yang ber argumen kalau "Allah swt di atas langit " dengan dalil-dalil sebagai berikut : v
1. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy.
2. Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian dia bersemayam di atas Arsy.
Adapun dalil hadist rasulallah tentang esensi Allah di langit sebagai berikut :
1. Hadist yang di keluarkan oleh imam Muslim yang sanadnya dari Muawiyah bin al- Hakim as-Silmi berkata " Bahwasanya saya mempunyai seorang budak perempuan yang sedang mengembala kambing, kemudian rasulallah mendatangiku seraya berkata kepadaku" Apakah ia pembantumu" kemudian aku menjawab "benar ya rasulallah" kemudian beliau mendatangi pembantuku dan berkata kepadanya " Dimanakah Allah.. ? pembantuku menjawab" di langit " kemudian beliau bertanya" Siapakah saya..? kemudian dijawab " kamu adalah rasulallah( utusan Allah swt). Kemudian beliau berkata kepadaku" Sesungguhnya pembantumu adalah mu'minah
Disini saya tidak menulis argument bantahan al-Ghozali terhadap dalil-dalil yang di atas yang notabenenya menunjukan kalau Allah swt di atas langit, karena disebabkan beberapa hal yang insyaallah akan kita ketahui di bangku kuliah al-azhar yang menganut aliran aqidah imam Abu al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari.

C. BIDANG FALSAFAH.
Al-Ghozali adalah seorang yang penuh dengan fenomental dalam bidang ilmu pengetahuan, banyak bidang ilmu yang beliau geluti dalam hidupnya mulai dari ilmu tasawuf , aqidah, akhlak sampai kepada filsafah yang tatkalah itu menjadi ilmu baru dikalangan umat islam yang diterjemahkan kedalam bahasa arab, ketika gerakan penerjemahan digalakan di zaman Dinasti Abbasiyyah. Sehingga banyak para ulama islam yang konsen di bidang yang bisa dianggap baru ini. Dan hal tersebut menambah aliran baru dalam islam yaitu para filosof islam yang menerjemahkan islam melalui filsafat yang mereka pelajari , disini banyak kesesatan serta kesalah pahaman yang masuk ke dalam pemikiran ulama islam yang konsen mendalaminya seperti dalam permasalahan " bumi " Sebagian ulama islam yang pikirannya telah terkontaminasi oleh Ariesthales dan Socrates mereka menyetujui kalau bumi itu ada dengan sendirinya karena dari ber erotasi benda-benda cakrawala seperti matahari dengan bulan kemudian bulan bergesekan dengan matahari atau dengan bulan lainnya yang mengakibatkan lahirnya bumi. Atau juga mereka mendebatkan tentang existensi keberadaan bumi, apakah bumi itu bersifat qodim ( lama) atau hadis ( baru) sehingga satu sama lain saling mengkafirkan seperti imam al-Ghozali mengkafirkan al- Farobi, ibnu Sina yang tidak sejalan dengan pendapatnya yang mengatakan kalau "Alam itu hadis " dan setiap yang hadis mempunyai sebab, jadi alam mempunyai sebab, yang sebabnya adalah dari Allah swt. vi Perbedahan tersebut timbul dari segala bentuk pemikiran filsafah barat yang dituangkan dalam tulisan yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa arab sehingga menuaikan perbedaan pendapat ada yang pro dan kontra.
Yang terakhir sekiranya perlu kita ketahui buah karya imam al-Ghozali yang begitu cemerlang yang diperkirakan berjumlah 300 karangan yang masuk diantaranya "
1. Maqashid al-Falasifah (tujuan-tujuan para filusuf)
2. Tahafut al-Falasifah ( kekacauan pikiran para filusuf )
3. Mi’yar al-‘ilm (kriteria ilmu-ilmu)
4. Ihya’ ‘ulumudin (menghidupkan kembali ilmu–ilmu agama) yang merupakan
karyanya terbesar yang dikarangnya selama beberapa tahun di damaskus,
yerussalem, hijaz, dan thus yang berisi antara fikih, tasawuf, dan filsafat.
5. Al-Munaqidz min al – Dhalal ( Penyelamat dari kesesatan)
6. Al-Ma’rifat al-Aqliyah (pengetehuan yang rasional)
7. Misykat al-Anwar (lampu yang bersinar banyak)
8. Minhaj al-‘Abidin (jalan mengabdikan diri kepada Tuhan)
9. Al-Iqtishad fi al- ‘itiqad (moderasi dalam aqidah)
10. Ayyuha al-Walad
11. Al-Mustahfa
12. Iljam al-‘awwam ‘an ‘ilm-al-Kalam
13. Mizan al-‘Amal
READ MORE - Dinamika Pemikiran Imam Al-Ghazali

ANTARA ISLAM DAN IBADAH

· 0 comments

Agama isalam adalah agama tertua ke tiga setelah agama Yahudi dan Nasrani dimana agama tersebut dibawa oleh para utusan Alloh seperti Nabi Musa as. Dengan kitab sucinya At-Taurot yang diturunkan Alloh pada pertengahan bulan Ramadhan untuk umat Yahudi, Nabi Isa Al-Masih ibnu Maryam dengan kitab sucinya Injil yang diturunkan Alloh pada tanggal 13 bulan Ramadhan untuk umat Nasrani dan jabur diturunkan Alloh pada tanggal 18 bulan Ramadhan sedangkan Al-qur'an yang diturunkan Alloh pada Nabi Muhammad saw untuk umat Islam pada tanggal 24 bulan Ramadhan,yaitu diturunkan dari Arasy ke baitull izzah dilangit pertama sehingga diturunkannya kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril di gua hiro pada tanggal 17 Ramadhan.Yaitu lima ayat surat Al-alaq danterus diturunkan berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari sampai tanggal 9 zulhijja. 3 bulan sebelum wafatnya Nabi kita Muhammad saw . Semua kitab suci dari agama samawi di turunkan Alloh pada bulan Ramadhan.Menurut hadist yang diriwayatkan oleh Imron dari Qotadah.
. Adapun kitab-kitab terdahulu seperti Jabur, Taurot, Injil hanya mencakup pada aspek
ketauhidan dan hukum pada masa itu, sedangkan kitab umat Islam( Al-qur'an) mencakup dari pada aspek ketauhidan, hukum syariat, muamalah, akhlak dan kisah-kisah terdahulu.maka menjadikan Al-qur'an menjadi satu-satunya kitab terlengkap yang Alloh turunkan kepada para rosul-rosulnya,dengan menjadikan islam satu-satunya agama yang terakhir dan penyempurna dari agama-agama yang lainnya yang telah Alloh turunkan dibumi ini, dan setelah datangnya Islam maka terhapuslah hukum-hukum agama yang lalu dan datanglah hukun-hukum yang baru yang tercakup di dalam Al-qur'an dan ada kewajib mengimaninya secara kaffah yang dibawa Nabi Muhammad saw.Dengan mengikrar kan diri: Tiada Tuhan selain Alloh dan Nabi Muhammad saw utusan N-ya.
Adapun pada kesempatan kali ini penulis akan mencoba sedikit membahas tentang agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw untuk disampaikan kepada seluruh umat yang mencakup dari golongan manusia dan jin dengan satu misi menyebarkan agama Alloh di atas muka bumi ini.Agama Islam terdiri dari unsur ketauhidan yang di aplikasihkan secara luas dalam bentuk ibadah yang terbagi menjadi dua bagian:1, Amalan batiniyah (rohaniyah) seperti berdzikir kepada Alloh, baik di dalam hati ataupun di lisan.
2,Amalan dhohiriyah(jasmaniyah) seperti sholat, zakat, puasa dan haji,semua itu adalah bentuk amalan ibadah yang telah tercantum di dalam Al-qur'an dan hadist yang disosialisasikan dan dijabarkan oleh ilmu fiqih, dari semua amalan ibadah tersebut ada satu ibadah yang dilakukan sambil santai dan menikmati dua keindahan kota suci: Mekah dan Madinah dan ibadah ini boleh dikatakan berliburnya orang-orang islam untuk menikmati keindahan dua kota tersebut,mulai dari segi peradabannya,kemekmurannya dan tempat-tempat bersejarah umat Islam.Dua kota tersebut telah terjamin keamanannya dari Alloh swt sebagaimana Firman N-ya :Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata,(di antaranya) maqam Ibrahim: barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia,penafsiran kata aman dalam ayat ini berkaitan dengan peristiwa ketika Nabi memasuki kota madinah bersama puluhan ribu kaum muslimin untuk melaksanakan ibadah Haji, maka ketika itu timbul perasaan takut di benek orang-orang kapir atas segala perbuatan jelek yang ia lakukan kepada Muhammad , namun dengan sifat penyabar dan kasih sayangnya kepada umat, yang keluar dari mulut beliau kepada orang kapir mekah: Barang siapa yang memasuki Baitullah amanlah ia dan barang siapa yang memasuki rumah Abu sofyan ia pun akan aman,adapula yang menafsirkan aman disini dalam segi ibadah dimana tidak ada perbedaan satu kelompok dengan kelompok yang lainnya atau satu mazhab dengan mazhab yang lain dalam tata cara ibadah Haji begitujuga ditambah dengan doa Nabi Ibrahim untuk kemakmuran dua kota tersebut yang telah Alloh abadikan didalam surat Al-baqarah:" Ya Tuhanku jadikanlah negeri ini,negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Alloh dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali."
Haji dan Umroh adalah salah satu ibadah yang mempunyai keunikan tersendiri dari ibadah lainnya dimana ke dua ibadah ini boleh dilaksanakan dalam satu waktu dan boleh juga dilakukan dalam waktu yang berbeda.Alloh telah menjadikan Mekah dan Madinah sebagai kota suci untuk beribadah kepada N-ya dimana disana diwajibkannya umat Islam untuk melaksanakan rukun islam yang ke lima yang berupa ibadah Haji,barbicara tentang Haji maka kita tidak akan terlepas dari ibadah umroh karena kedua ibadah tersebut saling berkaitan sebagaiman dalam firman Allah "Sempurnakanlah Haji dan umrohmu hanya karena Alloh adapun .definisi Haji yaitu: Berkunjung ke baitulloh demi mencapai ridho Alloh untuk melaksanakan ibadah tertentu dan wukuf di Arofah pada waktu yang telah di tentukan.
Haji adalah ibadah yang telah ditetapkan Allah dan rosulnya pada bulan dan hari tertentu yang dilaksanbakan selama setehun sekali dari dua belas bulan hijriyah adapun bulan yang telah Allah tetapkan yaitu bulan syawal, zulkaidah dan zulhijjah untuk melaksanakan ibadah haji menurut kesepakatan para jamhur ulama. Adapun menurut salah satu kelompok khowarij ibadah Haji itu dapat dilakukan setiap sebulan sekali, akan tetapi pendapat ini tidak dilandasi dengan dalil Al-qur'an dan hadist yang khot'i kebenarannya karena pendapat ini baru dalam agama (bid'ah dolalah). Kecuali kalau ibadah umroh,karena ibadah itu dapat dilaksanakan setiap bulan namun yang paling afdhol dilaksanakan dibulan yang telah Allah wajibkan berhaji dengan rukun Umroh yang telah ditetapkan seperti
1, Ihrom
2, Towaf(mengelilingi ka'bah tujuh kali)
3, Sa'i( lari-lari kecil antara bukit sofa dan marwah)
4, Bercukur rambut.
5, tertib.
Sedangkan definisi umroh itu "Berkunjung ke baitulloh demi mencapai ridho Alloh untuk melaksanakan thowaf sa'i dan cukur rambut atau tahalul.
Dalam ibadah antara rukun dan wajib itu mempunyai definisi yang sama akan tetapi dalam ibadah Haji antara rukun dan wajib itu dibedakan dalam definisinya tapi kali ini penulis tidak akan menulis rukun dan wajib Haji karena akan dibahas oleh penulis lainnya.Adapun ganjaran pahala dari ibadah Haji itu cukup menggiurkan bagi kaum muslimin dan muslimat yang apabila ibadah Hajinya itu mabrur, sedangkan definisi mabrur itu sendiri Haji yang tidak bercampur dengan perbuatan dosa, atau sesuatu perbuatan yang bisa menghilangkan dari pahala Haji tersebut. sebagaimana dalam Hadist yang diriwayatkan oleh Abi hurairoh berkata: Aku bertanya kepada Rosulalloh pekerjaan apa yang paling utama, maka Nabi berkata : Beriman kepada Alloh dan Rosulnya, kemudian aku berkata lagi lalu apa ya Rosul" Maka Nabi berkata Jihad dijalan Alloh , kemudian aku bertannya lagi lalu apa ya Rosul" Haji mabrur. Al_hadist. Mungkin cukup sekian dari uraian singkat tentang memaknai
Antara Islam dan ibadah mudah-mudahan bermanfa'at untuk kita sekalian amin ya Robbal alamin
READ MORE - ANTARA ISLAM DAN IBADAH

MENGUNGKAP MA'NA AL-QUR'AN

· 0 comments

Segala puji hanya bagi Allah swt yang telah menciptakan langit dan bumi beserta isi-isinya tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali diriNya, dialah maha sempurna dari seluruh kesempurna'an di dunia ini.Selawat serta salam semoga selalu senantiasa tetap tercurahkan kepada sebaik-baiknya makhluk, panutan umat,syaidina wa maulana Muhammad saw, beserta keluarganya para sahabatnya serta sampai ke kita semua amin ya rabal alamin.
Al-qu'ran adalah kitab samawy yang diturunkan oleh Allah swt sebagai kitab terakhir untuk Nabi terakhir yang telah didahului oleh kitab-kitab sebelumnya yang mencakup dari pada Zabur, Taurat dan Injil yang mana kitab-kitab terdahulunya telah banyak pengubahan oleh tangan – tangan umat tersebut berbeda dengan Al-qur'an karena Allah swt telah menjanjikannya untuk dijaga serta sebagai kitab terakhir untuk umat ini sampai datangnya hari kiamat.

Al-qur'an itu sendiri mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki oleh kitab-kitab pendahulunya yang mana dari keistimewaannya ia memiliki banyak nama yang menunjukan keangunggannya serta kehebatannya yang kesemuanya menunjukkan kedudukannya yang tinggi dan luhur, dan secara mutlak Al- qur'an adalah kitab samawy yang paling mulia.

B. Penama'an Al-qur'an Serta Suroh.

Menurut Abu Mualy Azizi Bin Abdul Malik bahwasanya Allah swt menamakan Al-quran dengan lima puluh lima nama oleh sebab itu dinamailah kitab samawy dengan: Al-Qur'an, Al-Furqan, At-Tanzil, Adz-Dzikr, Al-Kitab dsb. Seperti halnya Allah juga telah memberi sifat tentang Al-Qur'an sifat-sifat yang luhur antara lain; Nur (cahaya), Hudan (petunjuk), Rahmat, Syifa' (obat), Mau'izhah (nasihat), 'Aziz (mulia), Mubarak (yang diberkahi), Basyir (pembawa khabar baik), Nadzir (pembawa khabar buruk) dan sifat-sifat lain yang menunjukkan kebesaran dan kesuciannya.
Disini penulis tidak menuliskan semua nama-nama Al-quran yang berjumlah lima puluh lima nama keseluruhannya.
Adapun Al-quran dinamakan kitab karena Al-quran kumpulan dari macam-macam disiplin ilmu, kisah-kisah serta kabar-kabar terdahulu dan sekarang.
Dan dinamakan Al- qur’an maka disini para ulama berbedah pendapat, diantaranya ada sekelompok jama’ah berpendapat” Al-qur’an adalah nama ilmu yang tidak ada pengambilannya khususnya dengan kalamullah yang tidak terdapat kecacatan didalamnya.
Dan menurut Al-As’ary Al-qur’an itu diambil dari kalimat" قرأت الشى بالشى . yang apabila kalimat tersebut digabung dengan salah satu kalimat yang lainnya maka dinamakan Al-qur’an, surat, dan huruf.
Sedangkan menurut Faroi bahwasanya kalimat Al-qur'an itu diambil dari kalimat القراءن karena ayat-ayat tersebut membenarkan sebagian ayat yang lainnya dan juga menyerupai yang satu dengan yang lainnya.
adapun faidah tentang penama’an Al-qur’an itu sendiri dengan sebutan Mushaf, lahir tatkala Abu Bakar mengkodifikasihkan Al-qur’an yang kemudian beliau menanyakan tentang penghimpunan tersebut lalu sebagaian dari mereka menamakannya Injil yang kemudian Abu Bakar tidak menyetujuinya, kemudian berkata sebagian yang lain dari mereka kita namakan Safaron kemudian untuk kedua kalinya Abu Bakar tidak menyetujuinya, kemudian Ibnu Mas’ud berkata “ Saya melihat di Habsyah dinamakan Mushaf maka disetujuilah penama’an tersebut oleh Abu Bakar.

Sedangkan suroh menurut qutaby asal kalimat tersebut ada yang mengatakan mahmuz dan ada pula yang tidak, dan ulama yang mengatakan mahmuz maka asal dari kalimat tersebut dari أسأرت yaitu afdhol dari سؤر yang artinya sesuatu yang tersisa dari minuman dalam bejana seolah-olah itu potongan dari Al-qur'an .
Adapun ulama yang tidak mengatakan surah itu bukan dari mahmuz, mereka mengartikan ma'na سؤر itu dengan ma'na yang sebelumnya.
Adakalahnya suroh dalam Al-qur'an itu mempunyai satu nama dan ini banyak sekali kita dapatkan dalam Al-qur’an namun ada juga yang mempunyai dua nama atau bahkan lebih dari itu, satu contoh surat al-fatihah yang mempunyai dua pulu nama seperti fatihal kitab, fatihal qur'an, umul kitab / qur'an Al-qur'anil adzim, Al- wafiah, Al- kafiayah, As-Sab'ul Matsani (karena terdiri atas tujuh ayat yang diulang-ulang. ) dan lain sebagainya. Nama-nama tersebut menunjukan kepada kemuliannya kerena semakin banyaknya nama menunjukan kepada kemulian yang memberi nama.
Sebagaimana kita ketahui bahwa surat-surat dan ayat-ayat dalam Al-Quran tidak dihimpun dan dicatat menurut kronologi (urutan) turunnya kepada Rasulullah s.a.w akan tetapi penghimpunan tersebut lahir dari wahyu yang disampaikan malaikat Jibril kepada Rasulullah s.a.w dan juga berlandaskan pada atsar (perkataan atau perbuatan sahabat atau tabi'in). Di antara atsar - atsar yang dikemukakan berkenaan dengan masalah ini adalah sebuah atsar yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Dia berkata "Apabila pembukaan suatu surat di¬turunkan di Makkah, maka pembukaan itu ditulis di kota itu.

C. Kodifikasi Al- Qur'an.

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa Al-Qur'an diturunkan ayat demi ayat dan surat demi surat. Karena kefasihan dan keindahan bahasanya luar biasa, ia tersebar dengan cepat dan menakjubkan. Orang-orang Arab, yang sangat menggandrungi kefasihan dan keindahan bahasa, tertarik kepada¬nya, sehingga dari tempat-tempat yang jauh mereka datang untuk mendengarkan beberapa ayat dari bibir Nabi Muhammad s.a.w. Para pembesar Makkah dan kalangan berpengaruh suku Quraisy adalah penyembah-penyembah berhala dan musuh-musuh Islam. Mereka berupaya keras menjauhkan orang ramai dari Nabi, dan tidak memberi kesempatan untuk mendengarkan Al-Qu'ran, dengan alasan bahwa Al-Qur'an itu adalah sihir yang dilontarkan kepada mereka. Meskipun demikian, secara sembunyi-sembunyi dalam malam-malam yang gelap, mereka datang mendekati rumah Nabi untuk mendengarkan ayat-ayat Al-Qur'an yang sedang beliau baca.
Begitu juga keada'an Kaum Muslimin ketika itu mereka bersungguh-sungguh dalam menghapal dan mempelajari Al-Quran, karena Nabi s.a.w. diperintahkan untuk mengajarkan Al-Qur'an kepada mereka dan karena mereka berkeyakinan bahwa Al-Quran adalah firman Allah swt dan merupakan sandaran pertama bagi keimanan-keimanan keagamaan, dan sebab dalam salat mereka diwajibkan untuk mem¬baca surat al-Fatihah dan surat yang lain.
Setelah Nabi Muhammad s.a.w. hijrah ke Madinah, dan urusan kaum Muslimin menjadi teratur, beliau memerintahkan kepada sekelompok sahabatnya untuk memperhatikan keadaan AI-Quran, karena Al- Qur'an diturunkan secara berangsur-angsur sehingga tidak dimungkinkan untuk membukukannya secara utuh dalam satu waktu. Al- Qur'an turun secara sempurna menjelang wafatnya Rasulullah, yang berarti bahwa ketika Rasulullah wafat Al- Qur'an belum dibukukan dalam satu kitab. , Ali radliyallahu anhu yang oleh Nabi dikukuhkan sebagai orang yang paling tahu tentang Al-Quran - diam di rumah¬nya untuk menghimpun Al-Quran dalam satu mushaf menurut urutan turunnya. Dan belum enam bulan sejak wafatnya Rasulullah, dia telah merampungkan penghimpunan itu dan mengusungnya ke atas punggung unta. ) Maka disinilah bahwa nama beliau terukir menjadi salah satu orang yang pertama yang mengkodifikasihkan Al-qur'an sebelum Abu bakr atas saran Umar radliyallahu anhu.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Ad Dair 'Aquli dalam Fawa'id-nya dari Zaid bin Tsabit berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meninggal dan Al- Qur'an belum dikumpulkan dalam bentuk apapun.
Al Khattabi menjelaskan sebab belum dikumpulkannya al Quran dalam satu mushaf pada jaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah karena adanya naskh (penghapusan) sebagian hukum dan bacaannya. Kemudian setelah Al- Qur'an turun dengan sempurna dengan wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Allah mengilhamkan kepada Khulafa Rasyidun untuk mengumpulkannya, sebagai wujud dari janji Allah untuk menjaga kalam-Nya, maka dimulailah pada zaman Abu Bakr dengan petunjuk dari Umar radliyallahu anhuma.
Tahapan pengumpulan Al- Qur'an terbagi dalam tiga tahap, sebagaimana disebutkan oleh Hakim dalam al Mustadrak, yaitu:
Pada zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
Pengumpulan Al- Qur'an pada tahap ini berupa pengumpulan ayat-ayat dalam satu surat sebagaimana disebutkan oleh Baihaqi.
Pada zaman Abu Bakr radliyallahu anhu.
Bukhari menceritakan dalam Shahihnya dari riwayat Zaid bin Tsabit, bahwa ketika terjadi pertempuran Yamamah, Umar mengusulkan kepada Abu Bakr untuk mengumpulkan al Quran dikarenakan banyaknya qurra' yang terbunuh dalam pertempuran itu. Kemudian Abu Bakr menyuruh Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan al Quran dari pelepah kurma, batu dan hapalan para sahabat.
Pengurutan surat-surat al Quran pada zaman Utsman radliyallahu anhu
Pengumpulan al Quran pada tahap ini didasarkan atas usulan Hudzaifah bin Yaman ketika melihat terjadinya banyak perselisihan diantara qurra' ketika mulai tersebarnya islam ke Amenia dan Azebaijan. Maka Utsman menyuruh Zaid bin Tsabit untuk menulis ulang mushaf yang tersimpan di tangan Hafshah radliyallahu anha, kemudian membakar semua yang tertulis di selainnya.
Ibnu at Tin berkata: Perbedaan antara pengumpulan al Quran pada zaman Abu Bakr dan zaman Utsman adalah bahwa sebab pengumpulan di zaman Abu Bakr adalah dikarenakan takut hilangnya sebagian dari al Quran dengan meninggalnya para penghapalnya. Hal ini karena al Quran belum dikumpulkan dalam satu tempat, kemudian Abu Bakr mengumpulkannya sesuai urutan ayat-ayat yang ditentukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
Sedangkan pengumpulan al Quran pada zaman utsman adalah dikarenakan banyaknya pebedaan dalam cara membaca sehingga mereka membaca dengan bahasa mereka. Hal ini menyebabkan mereka saling menyalahkan bacaan yang lain. Maka Utsman kembali menulis ulang mushaf dalam satu mushaf dengan satu bahasa, yaitu bahasa Qurays.

Setelah Al-qur'an terkodifikasihkan maka Jumlah Surat, dalam kitab suci Al-qur'an sekitar 114 surat sesuai dengan kesepakatan' para ulama. Adapulah yang berpendapat 113 dengan menggabung surat الأنفال dan براءة.

Dikarenakan adanya kesamaan dari surat tersebut sebagaimana Utsman radliyallahu anhuma. Berkata" Bahwasannya الأنفال adalah salah satu dari ayat yang pertama kali turun sedangkan براءة adalah akhir turunnya ayat Dan perlu kita ketahui juga bahwa di dalam surat براءة tidak terdapat lafad البسملة adapun sebab dari ketidak ada'annya lapaf tersebut karena dari kebiasa'an orang arab jahiliyah mana kalah mereka membatalkan sebuah perjanjian dengan kelompok lain maka mereka menulis surat pembatalan tersebut tanpa البسملة Sedangkan jumlah ayat dalam Al-qur'an, para ulama disini berbedah pendapat menurut Ad- Dhani: ada yang mengatakan jumlahnya 6000, 6204, 6214, 6219, 6225, dan ada yang mengatakan jumlahnya 6236 ayat.
Sebab terjadinya Perbedaan pendapat tentang jumlah keseluruhan ayat Al¬-Qur'an itu disebabkan oleh adanya perbedaan pendapat tentang jumlah ayat tiap-tiap surat. Para ulama juga menyebutkan jurnlah huruf dan kata dari tiap-tiap surat, dan jumlah keseluruhan huruf dan kata Al-Quran.

Mungkin hanya ini yang bisa penulis uraikan dari pemahaman saya terhadap kitab Al-itqon jikalau terdapat pemahaman yang salah serta kekurangan, kritik serta saran kami tunggu dan akhirnya kami ucapkan wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.



D. Referensi.

1. Kitab Al-itqon karya Al-imam syaikh Zalaludin Abdurrahman As-Suyuti, percetakan At-Taufiqiyah.Cairo.



2. Al- Burhan Fi Ulumil Quran. Kaya Al-imam syaikh Badrudin Muhammad Bin Abdullah Adzarkasy. Maktabah Turast.Cairo.

3. Mengungkap Rahasia Al-qur'an buah karya Allamah M.H. Percetakan Mizan. Indonesia.
READ MORE - MENGUNGKAP MA'NA AL-QUR'AN

AL-QUR’AN DAN AL-HADIST *

15‏/02‏/2011 · 0 comments

PENGANTAR.
Islam adalah agama Rahmatan lil alamin bagi seluruh makhluk jagat raya ini, karena didalamnya ada unsur kesamaan dalam kehidupan bermasyarakat, baik dari segi hukum syariat, undang-undang dalam kepemerintahan dan menghormati hak individual perorangan semua itu terdapat dalam kitab suci al-qur’an dan al-hadist. Al-Qur'an yang menjadi kitab paling akhir dan yang paling utama, penurunannya tidaklah secara langsung melainkan secara bertahap, sehingga pihak yang berada di dalam prosesnya dari awal hingga akhir sangatlah berpengaruh kuat.
Para sahabat nabi adalah orang-orang Arab murni, mampu mencerna kesusasteraan bermutu tinggi. Mereka dapat memahami ayat-ayat al-Qur'an yang turun kepada Rasulullah saw. Jika menghadapi kesukaran dalam memahami sesuatu mengenai al- Qur'an, mereka menanyakannya langsung kepada beliau, sehingga disini kita bisa melihat betapa urgennya keberadaan Rosulallah ditengah-tengah para sahabat dan umat islam ketika itu sehingga perkataan, perbuatan dan penetapan Rasulallah menjadikan suri teladan bagi umat seluruh dunia ini, sehingga apa-apa yang ada pada diri Rasulallah adalah sebuah gambaran dari al-qur’an yang menjadikan penjelas dan sekaligus contoh bahwa beliau adalah manusia yang berakhlak al-qur’an yang menjadkannya sumber agama islam yang kedua setelah al-qur’an. Pada suatu hari Rasulallah berkata : Aku telah mewasiatkan kepada kalian dua perkara, yang apabilah kalian berpegang teguh kepada keduanya maka kalian tidak akan pernah sesat ( al-qur’an dan sunahku).1
Al-qur’an salah satu kitab samawi yang Allah turunkan kepada para Rasulnya yang mencakup dari pada hukum syariat, sejarah,akhlak serta pedoman hidup bagi manusia, yang didalamnya tidak ada keraguan serta tidak ada kebatilan dari hadapannya dan tidak juga dari belakangnya, karena diturunkan dari Yang Maha Bijaksana dan Maha terpuji. Al Quran adalah Hujjah Allah yang kekal dan mu`jizat Nabi-Nya yang paling besar. Sungguh Allah telah menjamin untuk menjaganya, Allah berfirman :

"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. 15:9).2
Mengenal Al-qur’an Dan Al-hadist lebih dalam.
Al-qur’an adalah kalamullah ta’ala yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dengan bahasa arab membacanya sebagai ibadah, yang ditulis di mushaf dan saling melengkapi ayat satu dengan yang lainya.3
Tidak semua kalamullah ta’ala itu qur’an seperti At- taurot, Injiel, dan Zabur. Karena Allah swt berbicara sesuai apa yang Ia hendaki. Bahkan hadist qudsipun yang diturunkan kepada Nabi Muhammad baik dari segi lafad dan maknanya langsung dari Allah bukan dikatakan al-qur’an, dengan dalil tidak tertulis dimushaf al-qur’an.dan tidak dibaca dalam sholat, al-qur’an adalah kitab suci umat islam yang mempunyai keutamaan dari kitab-kitab lainnya, diantaranya :
Setiap nas-nas yang ada dalam al-qur’an langsung dari Allah swt,
Allah mewahyukan al-qur’an kepada kita dengan bahasa arab yang jelas dan kita juga membacanya dengan bahasa tersebut tanpa ada sedikit perbedaanya. Baik dari segi penambahan dan pengurangan ayat tersebut.
Al-qur’an sebagai unsur agama islam yang merupakan kumpulan hukum dan sebagai penjelas dari hukum-hukum syariat islamiyah
Al-qur’an adalah kitab suci umat islam yang didalamnya mencakup disiplin ilmu dengan memahi dan mengkajianya maka kita akan menemukan rahasia-rahasia pencipta­an Allah dengan penje­lasan paling benar dan paling murni. Infor­masi apa pun yang tidak berdasarkan pada al-Qur’an adalah informasi yang tidak benar, dengan demikian informasi tersebut merupa­kan tipuan dan khayalan. Dengan demikian, orang-orang yang tidak berpegang pada al-Qur’an hidupnya dalam keadaan mengkhayal. Di akhirat, mereka akan dilaknat selama-lama­n sebaliknya orang-orang yang mempelajari rahasia-rahasia dalam al-Qur’an menjalani kehidupannya dengan mudah dan gembira. Sebabnya adalah karena al-Qur’an itu jelas, mudah, dan cukup sederhana untuk dipahami oleh setiap orang. Adapun untuk memahami conteks al-qur’an secara benar maka dibutuhkan ilmu ushul al-tafsir , qowaid tafsir dan ilmu tafsir itu sendiri tentunya. Dalam artian tidak semua orang mengartikan al-qur’an sehendak dirinya, maka dibutuhkanlah disiplin ilmu tersebut karena al-qur’an adalah kalamullah yang berbahasa arab dengan muatan ilmiyah dan muatan sastra yang menakjubkan tentunya. Hadist telah mewanti-wantikan:
“Barangsiapa yang menafsirkan al-qur’an dengan rasionalnya sendiri, maka siap-siaplah untuk ditempatkan di neraka”
Adapun ilmu yang diperlukan untuk memahami al-qur’an adalah ilmu tafsir . Tafsir menurut Ibnu faris : Kata yang bisa menjelaskan makna sesuatu. Sedangkan menurut pendapat para ulama: Ilmu yang didalamnya membahas tentang al-qur’an karim baik dari segi petunjuk, hukum-hukumnya dan menghilangkan kepelikan makna al-qur’an yang Allah maksudkan kepada manusia yang sesuai dengan kadar kemampuannya.
Sedangkan tafsir itu terbagi menjadi beberapa bagian yang meliputi dari beberapa aspek, seperti tafsir Ma’tsur yang diplopori oleh Hasan Basri, Assudi al-kabir dan Imam Bukhori, sedangkan tafsir Bayani lughawi diplopori oleh Ibnu Qutaibah, Abu Ubaidah dan Al- Farra, akan tetapi penulis akan membahas tafsir Riwayat dan tafsir Maudu’i saja.
Tafsir Riwayat atau yang lebih dikenal tafsir Sahabat adalah tafsir yang memiliki kedudukan sebagaimana kedudukan hadist Nabi Tafsir ini juga termasuk yang mu'tamad (dapat dijadikan pegangan) dan dapat diterima, karena shahabat adalah pernah berkumpul/bertemu dengan Nabi saw. dan mereka mengambil dari sumbernya yang asli, mereka menyaksikan turunnya wahyu dan turunnya al-Qur'an. Mereka mengetahui asbabunnuzul. Mereka mempunyai tabiat jiwa yang murni, fitrah yang lurus lagi pula berkedudukan tinggi dalam hal kefasihan dan kejelasan berbicara. Mereka lebih memiliki kemampuan dalam memahami kalam Allah. Dan hal lain yang ada pada mereka tentang rahasia-rahasia al-Qur'an sudah tentu akan melebihi orang lain yang manapun juga. Bahkan Al-Hakim berkata: "Bahwa tafsir sahabat yang menyaksikan wahyu dan turunnya Al-Qur'an, kedudukan hukumnya adalah marfu'. Pengertiannya bahwa tafsir tersebut mempunyai kedudukan sebagaimana kedudukan hadits Nabi yang silsilahnya sampai kepada Nabi. Karena itu maka tafsir Shahaby adalah termasuk ma'tsur. Namun ada beberapa ulama berbedah pendapat ada yang mengatakan tafsir Riwayat termasuk tafsir Ma’tsur karena sebagian besar pengambilannya secara umum dari para sahabat akan tetapi ada pula yang mengatakan tafsir Riwayat Tabi'in adalah termasuk tafsir dengan ra'yu atau akal, dengan pengertian bahwa kedudukannya sama dengan kedudukan para mufassir lainnya.
Sedangkan tafsir Maudu’i tafsir yang menggunakan dalil-dalil logika dengan menggunakan ra’yu dan akal untuk menafsirkan firman Allah swt. Seperti Bertebaran ayat-ayat yang menguraikan dalil-dalil aqliah tentang Keesaan Tuhan. Misalnya.

أنى يـكـون لـه ولـد ولـم تـكن لـه صـاحـبة وخـلق كل شـيء وهـو بكـل شـيء عـلـيم

Bagaimana Dia mempunyai anak, padahal dia tidak mempunyai istri. Dia yang menciptakan segala sesuatu, dan Dia mengetahui segala sesuatu (QS Al-An'am.

Sedangkan Pengapusan ayat dalam al-qur’an yang lebih dikenal dalam bahasa arab ( an-nashu fil Qur’an)
An-nashu menurut etimologi : Menghilangkan/ menghapus
An-nashu menurut terminologi : Menghapus hukum yang dulu dengan menetapkan hukum yang baru.
Adapun syarat-syarat Nashu :6

Hendaknya nashu yang akan dihapus dari al-qur’an atau sunah. Tidak dibenarkan menghapus ayat al-qur’an dengan qiyas begitu juga dengan ijma ulama.
Hendaknya nashu yang menghapus itu lebih baru dari yang di hapus, dan ini tidak ada perbedaan didalamnya karena sesungguhnya tidak mungkin yang lama menghapus yang baru.
Hendaknya ayat yang menghapus (an-nasihu) lebih kuat dibanding dengan yang dihapus ( al-mansuh) karena ayat al-qur’an hanya bisa dihapus dengan ayat al-qur’an tidak dengan hadist, qiyas dan ijma. Begitu juga sunah hanya bisa dihapus dengan sunah seperti ayat al-qur’an hanya bisa dihapus dengan ayat al-qur’an karena sunah tidak akan mungkin menjadi seperti al-qur’an atau lebih baik dari al-qur’an.

Setelah kita mengetahui nashu dalam al-qur’an maka akan lebih baiknya kita mengetahui faedah asbabul Nuzul yang sangat berkaitan sekali dengan pengapusan ayat al-qur’an adapun faedah mempelajari asbabul Nuzul seperti yang dibawah ini :

Mengetahui bentuk hikmah rahasia yang terkandung dalam hukum.
Menentukan hukum dengan sebab menurut orang yang berpendapat bahwa suatu ibarat itu dinyatakan berdasarkan khususnya sebab.
Mengetahui siapa orangnya yang menjadi kasus turunnya ayat serta memberikan ketegasan bila terdapat keragu-raguan.

Ibnu Daqiqil 'Ied berpendapat: "Keterangan tentang Asbabun Nuzul adalah merupakan salahsatu jalan yang tepat dalam memahami Al-Qur'an. Baik dari segi pengahapusan dan disiplin ilmu yang lainnya.

Assunah atau yang lebih dikenal dengan nama Al-hadist mempunyia kedudukan yang kuat sebagai hujjah/ dalil dalam menguatkan argumen dan hukum dalam agama islam setelah Al- qur’an, karena hadist adalah sebagai penjelas dari pada al-qur’an. Adapun hadis di lihat dari dua sudut pandang mempunyai dua definisi. 7

Menurut bahasa bermakna : Jalan
Menurut terminologi : adalah segala sesuatu yang datang dari Nabi saw, baik yang berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, ataupun sifat.

Sedangkan khobar yang berarti berita mempunyai definisi seperti berikut : segala sesuatu yang datang dari Nabi saw ataupun yang lainnya, yaitu shahabat beliau, tabi’in, tabi’ tabi’in, atau generasi setelahnya.
Sedangkan Atsar adalah segala yang datang selain dari Nabi saw, yaitu dari shahabat, tabi’in, atau generasi setelah mereka.
Dimana ada penjelasan tentang hadist maka tidak dapat dipisahkan antara khobar dan atsar didalamnya kerena keduanya sebagai tameng dari sumber hadist tersebut untuk mengetahui apakah hadist ini berupa qauli (perkataan) atau fi’ly ( perbuatan) dan atqriry (persetujuan)
Sedangkan untuk mengetahui apakah hadist yang datang kepada kita kedudukannya sahih, hasan atau dloif maka ulama hadist memberikan syarat-syarat yang begitu ketat diantaranya sebuah hadist untuk mencapai derajat yang tinggi dalam artian sohih mempunyai syarat seperti yang di bawah ini :

Hadisnya musnad yaitu hadis tersebut dinisbahkan kepada nabi saw dengan disertai sanad.
Sanadnya bersambung mempunyai maksud setiap (periwayat) dalam sanad mendengar hadis itu secara langsung dari gurunya
Para rawi (periwayat)nya adil dan dlabith dalam artian setiap periwayat harus mempunyai sifat adil yaitu membawa seseorang untuk memegang teguh taqwa dan kehormatan diri, serta menjauhi perbuatan buruk, seperti syirik, kefasikan dan bid’ah
Sedangkan dlabith seorang perowi yang mempunyai akal pikiran yang cermelang, dalam artian kuat dalam hafalan, dhabith disini terbagi menjadi dua bagian yang pertama menjaga hafalan hadistnya didalan hatinya dengan me netapkan apa yang didengar dalam hatinya dari gurunya. Sedangkan yang kedua menjaga hafalannya dengan menuliskan apa yang telah dihafal diotaknya kemudian ditulis apa-apa yang telah ia hafal didalam sebuah kitab.
4. Tidak ada syadz (keganjilan) dalam artian antara hadis yang diriwayatkan oleh seorang periwayat tidak bertentangan dengan hadis dari periwayat lain yang lebih kuat darinya
5. Tidak ada ilah (cacat) hadist tersebut terhindar dari syarat-syarat hadist dloif.
Sedangkan hadist dikatakan hasan apabila hadist itu memenuhi syarat sebagai hadis sahih , hanya saja kualitas dhabth (keakuratan) salah seorang atau beberapa orang rawinya berada di bawah kualitas rawi hadis sahih, tetapi hal itu tidak sampai mengeluarkan hadis tersebut dari wilayah kebolehan berhujjah dengannya.
Yang ketiga hadist dikatakan dloif jikalau hadist tersebut tidak terkumpul sifat-sifat yang menjadikannya dapat diterima (shahih), karena hilangnya salah satu dari syarat-syarat (hadis sahih) yang telah penulis sebutkan di atas. Sehingga dengan syarat-syarat diatas tadi maka terbentuklah sebuah definisi hadist sohih yaitu hadis yang musnad, bersambung sanadnya, dengan penukilan seorang yang adil dan dlabith dari orang yang adil dan dlabith sampai akhir sanad, tanpa ada keganjilan dan cacat.
Adapun sunah ditinjau dari segi ikatan / kedudukan dengan al-qur’an mempunyai empat bagian :

1) Sunah datang sebagai penguat dari hukum yang telah disebutkan dalam al-qur’an baik itu dari ucapan nabi ataupun perbuatannya.
2) Sunah sebagai penjelas dari lafad dalam al-qur’an yang berbentuk global atau murod al-qur’an yang tidak diketahui maknanya maka di jelaskan dalam sunah Nabi secara terperinci maksud dan tujuan dari sebuah ayat tersebut.
3) Sunah sebagai Nashu dari ayat al-qur’an yang bertentangan hukumnya dengan al-qur’an karena tidak akan dikumpulkan keduanya dalam satu hukum. Penjelasan ini yang disebut dengan bayanul tabdil, akan tetapi ulama masih berbedah pendapat tentang hal ini.
4) Sunah yang datang denga penjelasan sesuatu yang tidak ada dalam al-qur’an, sehingga menjadikan hukum yang baru dalam agama islam.yang lebih dikenal dengan nama Hujah.
Setelah kita mengenal tentang hadist ditinjau dari hukum dan status hadist yang datang kepada kita maka akan lebih baiknya kita firs back sejarah orang-orang yang telah mengumpulkan hadist menjadi sebuah kitab yang kaya akan desiplin ilmu semua itu berkat Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Syihab az-Zuhri al-Madani (rahimahullah) yang begitu perhatian sekali dengan hadist Nabi, dan didukung juga oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra yang merasa khawatir akan merosot dan hilangnya ilmu karena meninggalnya para ulama’ maka ia mengutus kepada Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm, dan memerintahkan-nya untuk membukukan hadis Rasulullah saw. Peristiwa itu terjadi pada penghujung abad pertama Hijriyah. Kemudian setelah az-Zuhri, di pertengahan abad kedua Hijriyah lahirlah tokoh-tokoh yang membukukan hadis nabi. ke dalam bab-bab tertentu seperti Ibnu Juraij, Hasyim, Imam Malik, Ma’mar, Ibnu al-Mubarak dan lain-lain. Itulah sepintas nama-nama tokoh besar yang banyak berjasa akan terciptanya sebuah kitab Al-hadist yang dapat kita nikmati sampai sekarang ini, semoga dengan perjuangan beliau dan hasil jerih payahnya selama mengumpulkan hadist dan sunah Nabi baik berupa perkataan, perbuatan dan penetapan sebuah hukum islam yang bersumber dari Allah melalui al-qur’an dan sunah mejadi ladang amalan kebaikannya amien.




EPILOG :

Mungkin ini yang bisa penulis sajikan untuk kajian IKASA tanggal 10-09-2008, apabila banyak kekurangan dan lain sebagainya penulis menunggu kritik dan sarannya. Terimakasih teruntuk bagian kajian yang telah memberikan kesempatan penulis untuk mengafrikasihkan penulisan kajian tentang al-qur’an dan al-hadist. Dan untuk teman-teman yang mambantu dalam penulisan makalah ini. Jazakalamullah kasiron dan akhirnya wassalam..







-----------------------------------------------
Referensi yang penulis tukil :
1. AL-WA-DIHU fi ushulul fiqih . doc. Muhamm d Sulaiman Abdullah al- Asqori
2. HR. Tarmidzi dalam kitab Sunan al-tarmidzi 2
3. Maqayisullughah hal 827
4. Mustalahal hadist al-imamul syuthi. 7
Taysir Ulum al-Hadits lil Mubtadi'in; Mudzakkirat Ushul al-Hadits lil Mubtadi'in.
5. kh. Bisri mustofa. Dalam sebuah artikelnya dimajalah kompas
6. Arifin muftie. Jurnalis islamiyah.

READ MORE - AL-QUR’AN DAN AL-HADIST *

ANTARA RIHLAH DAN IBADAH

· 0 comments

Agama isalam adalah agama tertua ke tiga setelah agama Yahudi dan Nasrani dimana agama tersebut dibawa oleh para utusan Alloh seperti Nabi Musa as. Dengan kitab sucinya At-Taurot yang diturunkan Alloh pada pertengahan bulan Ramadhan untuk umat Yahudi, Nabi Isa Al-Masih ibnu Maryam dengan kitab sucinya Injil yang diturunkan Alloh pada tanggal 13 bulan Ramadhan untuk umat Nasrani dan jabur diturunkan Alloh pada tanggal 18 bulan Ramadhan sedangkan Al-qur'an yang diturunkan Alloh pada Nabi Muhammad saw untuk umat Islam pada tanggal 24 bulan Ramadhan,yaitu diturunkan dari Arasy ke baitull izzah dilangit pertama sehingga diturunkannya kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril di gua hiro pada tanggal 17 Ramadhan.Yaitu lima ayat surat Al-alaq dan terus diturunkan berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari sampai tanggal 9 zulhijja. 3 bulan sebelum wafatnya Nabi kita Muhammad saw . Semua kitab suci dari agama samawi di turunkan Alloh pada bulan Ramadhan.Menurut hadist yang diriwayatkan oleh Imron dari Qotadah.
. Adapun kitab-kitab terdahulu seperti Jabur, Taurot, Injil hanya mencakup pada aspek
ketauhidan dan hukum pada masa itu, sedangkan kitab umat Islam( Al-qur'an) mencakup dari pada aspek ketauhidan, hukum syariat, muamalah, akhlak dan kisah-kisah terdahulu.maka menjadikan Al-qur'an menjadi satu-satunya kitab terlengkap yang Alloh turunkan kepada para rosul-rosulnya,dengan menjadikan islam satu-satunya agama yang terakhir dan penyempurna dari agama-agama yang lainnya yang telah Alloh turunkan dibumi ini, dan setelah datangnya Islam maka terhapuslah hukum-hukum agama yang lalu dan datanglah hukun-hukum yang baru yang tercakup di dalam Al-qur'an dan ada kewajib mengimaninya secara kaffah yang dibawa Nabi Muhammad saw.Dengan mengikrar kan diri: Tiada Tuhan selain Alloh dan Nabi Muhammad saw utusan N-ya.
Adapun pada kesempatan kali ini penulis akan mencoba sedikit membahas tentang agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw untuk disampaikan kepada seluruh umat yang mencakup dari golongan manusia dan jin dengan satu misi menyebarkan agama Alloh di atas muka bumi ini.Agama Islam terdiri dari unsur ketauhidan yang di aplikasihkan secara luas dalam bentuk ibadah yang terbagi menjadi dua bagian:1, Amalan batiniyah (rohaniyah) seperti berdzikir kepada Alloh, baik di dalam hati ataupun di lisan.
2,Amalan dhohiriyah(jasmaniyah) seperti sholat, zakat, puasa dan haji,semua itu adalah bentuk amalan ibadah yang telah tercantum di dalam Al-qur'an dan hadist yang disosialisasikan dan dijabarkan oleh ilmu fiqih, dari semua amalan ibadah tersebut ada satu ibadah yang dilakukan sambil santai dan menikmati dua keindahan kota suci: Mekah dan Madinah dan ibadah ini boleh dikatakan berliburnya orang-orang islam untuk menikmati keindahan dua kota tersebut,mulai dari segi peradabannya,kemekmurannya dan tempat-tempat bersejarah umat Islam.Dua kota tersebut telah terjamin keamanannya dari Alloh swt sebagaimana Firman N-ya :Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata,(di antaranya) maqam Ibrahim: barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia,penafsiran kata aman dalam ayat ini berkaitan dengan peristiwa ketika Nabi memasuki kota madinah bersama puluhan ribu kaum muslimin untuk melaksanakan ibadah Haji, maka ketika itu timbul perasaan takut di benek orang-orang kapir atas segala perbuatan jelek yang ia lakukan kepada Muhammad , namun dengan sifat penyabar dan kasih sayangnya kepada umat, yang keluar dari mulut beliau kepada orang kapir mekah: Barang siapa yang memasuki Baitullah amanlah ia dan barang siapa yang memasuki rumah Abu sofyan ia pun akan aman,adapula yang menafsirkan aman disini dalam segi ibadah dimana tidak ada perbedaan satu kelompok dengan kelompok yang lainnya atau satu mazhab dengan mazhab yang lain dalam tata cara ibadah Haji begitujuga ditambah dengan doa Nabi Ibrahim untuk kemakmuran dua kota tersebut yang telah Alloh abadikan didalam surat Al-baqarah:" Ya Tuhanku jadikanlah negeri ini,negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Alloh dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali."
Haji dan Umroh adalah salah satu ibadah yang mempunyai keunikan tersendiri dari ibadah lainnya dimana ke dua ibadah ini boleh dilaksanakan dalam satu waktu dan boleh juga dilakukan dalam waktu yang berbeda.Alloh telah menjadikan Mekah dan Madinah sebagai kota suci untuk beribadah kepada N-ya dimana disana diwajibkannya umat Islam untuk melaksanakan rukun islam yang ke lima yang berupa ibadah Haji,barbicara tentang Haji maka kita tidak akan terlepas dari ibadah umroh karena kedua ibadah tersebut saling berkaitan sebagaiman dalam firman Allah "Sempurnakanlah Haji dan umrohmu hanya karena Alloh adapun .definisi Haji yaitu: Berkunjung ke baitulloh demi mencapai ridho Alloh untuk melaksanakan ibadah tertentu dan wukuf di Arofah pada waktu yang telah di tentukan.
Haji adalah ibadah yang telah ditetapkan Allah dan rosulnya pada bulan dan hari tertentu yang dilaksanbakan selama setehun sekali dari dua belas bulan hijriyah adapun bulan yang telah Allah tetapkan yaitu bulan syawal, zulkaidah dan zulhijjah untuk melaksanakan ibadah haji menurut kesepakatan para jamhur ulama. Adapun menurut salah satu kelompok khowarij ibadah Haji itu dapat dilakukan setiap sebulan sekali, akan tetapi pendapat ini tidak dilandasi dengan dalil Al-qur'an dan hadist yang khot'i kebenarannya karena pendapat ini baru dalam agama (bid'ah dolalah). Kecuali kalau ibadah umroh,karena ibadah itu dapat dilaksanakan setiap bulan namun yang paling afdhol dilaksanakan dibulan yang telah Allah wajibkan berhaji dengan rukun Umroh yang telah ditetapkan seperti
1, Ihrom
2, Towaf(mengelilingi ka'bah tujuh kali)
3, Sa'i( lari-lari kecil antara bukit sofa dan marwah)
4, Bercukur rambut.
5, tertib.
Sedangkan definisi umroh itu "Berkunjung ke baitulloh demi mencapai ridho Alloh untuk melaksanakan thowaf sa'i dan cukur rambut atau tahalul.
Dalam ibadah antara rukun dan wajib itu mempunyai definisi yang sama akan tetapi dalam ibadah Haji antara rukun dan wajib itu dibedakan dalam definisinya tapi kali ini penulis tidak akan menulis rukun dan wajib Haji karena akan dibahas oleh penulis lainnya.Adapun ganjaran pahala dari ibadah Haji itu cukup menggiurkan bagi kaum muslimin dan muslimat manakalah ibadah tersebut mabrur( diterima oelh Allah),sebagaimana dalam hadist dikatakan" Haji yang mabrur, tidak ada satu ganjar dari Allah kecuali adalah surga" sedangkan definisi mabrur itu sendiri Haji yang tidak bercampur dengan perbuatan dosa, atau sesuatu perbuatan yang bisa menghilangkan dari pahala Haji tersebut. sebagaimana dalam Hadist yang diriwayatkan oleh Abi hurairoh berkata: Aku bertanya kepada Rosulalloh pekerjaan apa yang paling utama, maka Nabi berkata : Beriman kepada Alloh dan Rosulnya, kemudian aku berkata lagi lalu apa ya Rosul" Maka Nabi berkata Jihad dijalan Alloh , kemudian aku bertannya lagi lalu apa ya Rosul" Haji mabrur. Al_hadist. Mungkin cukup sekian dari uraian singkat tentang memaknai
Antara Islam dan ibadah mudah-mudahan bermanfa'at untuk kita sekalian amin ya Robbal alamin
READ MORE - ANTARA RIHLAH DAN IBADAH

Gallery

14‏/02‏/2011 · 0 comments



READ MORE - Gallery

About Me

صورتي
Hi Guys.. Salam kenal dari ane. Orang Misterius yang telah hadir di tengah-tengah kehidupan kalian, pada hari senin tepatnya di daerah Bekasi, dengan hobi engga betah tinggal dirumah, serta lebih suka makan di rumah orang lain hehe. Adapun hal yang paling di benci dlm hdup menunggu sesuatu yang g pasti dan duduk berdampingan dgn org yg merokok.

Discus With Me

Silaturahmi

  
 
Top

PESONA MESIR | Copyright © 2011 All right reserved.
Black Eleganisme Blogger Template | Designed By Serba Blog