‏إظهار الرسائل ذات التسميات Tokoh. إظهار كافة الرسائل
‏إظهار الرسائل ذات التسميات Tokoh. إظهار كافة الرسائل

Nasibah Sang Muslimah Sejati

23‏/02‏/2011 · 0 comments


Hari itu Nasibah tengah berada di dapur. Suaminya, Said
tengah beristirahat di kamar tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh
bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nasibah menebak, itu pasti tentara
musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di sekitar Gunung Uhud.

Dengan bergegas, Nasibah meninggalkan apa yang tengah dikerjakannya dan
masuk ke kamar. Suaminya yang tengah tertidur dengan halus dan lembut
dibangunkannya. "Suamiku tersayang," Nasibah berkata, "aku mendengar suara
aneh menuju Uhud. Barang kali orang-orang kafir telah menyerang."

Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Ia menyesal mengapa bukan
ia yang mendengar suara itu. Malah istrinya. Segera saja ia bangkit dan
mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu ia menyiapkan kuda, Nasibah
menghampiri. Ia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.

"Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang...."

Said memandang wajah istrinya. Setelah mendengar perkataannya seperti itu,
tak pernah ada keraguan baginya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap
dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju
utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang
berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum
kepadanya. Senyum yang tulus itu makin mengobarkan keberanian Said saja.

Di rumah, Nasibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru
berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya
dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang pengendara
kuda yang nampaknya sangat gugup.

"Ibu, salam dari Rasulullah," berkata si penunggang kuda, "Suami Ibu, Said
baru saja gugur di medan perang. Beliau syahid..."

Nasibah tertunduk sebentar, "*Inna lillah*....." gumamnya, "Suamiku telah
menang perang. Terima kasih, ya Allah."

Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat itu, Nasibah memanggil Amar.
Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan, "Amar, kaulihat Ibu
menangis? Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku sedih
karena tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi.
Maukah engkau melihat ibumu bahagia?"

Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.

"Ambilah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi
hingga kaum kafir terbasmi."

Mata amar bersinar-sinar. "Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak
dari tadi. Aku was-was seandainya Ibu tidak memberi kesempatan kepadaku
untuk membela agama Allah."

Putra Nasibah yang berbadan kurus itu pun segera menderapkan kudanya
mengikut jejak sang ayah. Tidak tampak ketakutan sedikitpun dalam wajahnya.
Di depan Rasulullah, ia memperkenalkan diri. "Ya Rasulullah, aku Amar bin
Said. Aku datang untuk menggantikan ayah yang telah gugur."

Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. "Engkau adalah pemuda Islam yang
sejati, Amar. Allah memberkatimu...."

Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung sampai
sore. Pagi-pagi seorang utusan pasukan islam berangkat dari perkemahan
mereka meunuju ke rumah Nasibah. Setibanya di sana, perempuan yang tabah itu
sedang termangu-mangu menunggu berita, "Ada kabar apakah gerangan kiranya?"
serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, "apakah
anakku gugur?"

Utusan itu menunduk sedih, "Betul...."

"*Inna lillah*...." Nasibah bergumam kecil. Ia menangis.

"Kau berduka, ya Ummu Amar?"

Nasibah menggeleng kecil. "Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi
yang akan kuberangkatan? Saad masih kanak-kanak."

Mendegar itu, Saad yang tengah berada tepat di samping ibunya, menyela,
"Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa
Saad adalah putra seorang ayah yang gagah berani."

Nasibah terperanjat. Ia memandangi putranya. "Kau tidak takut, nak?"

Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng yakin. Sebuah senyum
terhias di wajahnya. Ketika Nasibah dengan besar hati melambaikan tangannya,
Saad hilang bersama utusan itu.

Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda
berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan banyak nyawa orang kafir.
Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap
di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, "Allahu akbar!"

Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nasibah. Mendengar berita
kematian itu, Nasibah meremang bulu kuduknya. "Hai utusan," ujarnya,
"Kausaksikan sendiri aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Hanya masih tersisa
diri yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang."

Sang utusan mengerutkan keningnya. "Tapi engkau perempuan, ya Ibu...."

Nasibah tersinggung, "Engkau meremehkan aku karena aku perempuan? Apakah
perempuan tidak ingin juga masuk surga melalui jihad?"

Nasibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas saja
menghadap Rasulullah dengan kuda yang ada. Tiba di sana, Rasulullah
mendengarkan semua perkataan Nasibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata
dengan senyum. "Nasibah yang dimuliakan Allah. Belum waktunya perempuan
mengangkat senjata. Untuk sementra engkau kumpulkan saja obat-obatan dan
rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur."

Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nasibah pun segera menenteng tas
obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur.
Dirawatnya mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia
sedang menunduk memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka,
tiba-tiba terciprat darah di rambutnya. Ia menegok. Kepala seorang tentara
Islam menggelinding terbabat senjata orang kafir.

Timbul kemarahan Nasibah menyaksikan kekejaman ini. Apalagi waktu dilihatnya
Nabi terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh,
Nasibah tidak bisa menahan diri lagi. Ia bangkit dengan gagah berani.
Diambilnya pedang prajurit yang rubuh itu. Dinaiki kudanya. Lantas bagai
singa betina, ia mengamuk. Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya.
Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang. Hingga pada suatu waktu seorang kafir
mengendap dari belakang, dan membabat putus lengan kirinya. Ia terjatuh
terinjak-injak kuda.

Peperangan terus saja berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga
Nasibah teronggok sendirian. Tiba-tiba Ibnu Mas'ud mengendari kudanya,
mengawasi kalau-kalau ada korban yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu
melihat seonggok tubuh bergerak-gerak dengan payah, segera mendekatinya.
Dipercikannya air ke muka tubuh itu. Akhirnya Ibnu Mas'ud mengenalinya,
"Istri Said-kah engkau?"

Nasibah samar-sama memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, "bagaimana
dengan Rasulullah? Selamatkah beliau?"

"Beliau tidak kurang suatu apapun..."

"Engkau Ibnu Mas'ud, bukan? Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku...."

"Engkau masih luka parah, Nasibah...."

"Engkau mau menghalangi aku membela Rasulullah?"

Terpaksa Ibnu Mas'ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah,
Nasibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke pertempuran. Banyak
musuh yang dijungkirbalikannya. Namun, karena tangannya sudah buntung,
akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus. Rubuhlah perempuan itu ke
atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.

Tiba-tiba langit berubah hitam mendung. Padahal tadinya cerah terang
benderang. Pertempuran terhenti sejenak. Rasul kemudian berkata kepada para
sahabatnya, "Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan? Itu adalah
bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun
menyambut kedatangan arwah Nasibah, wanita yang perkasa."

Disadur dari:
http://www.dakwatuna.com/2007/jangan-halangi-aku-membela-rasulullah/
READ MORE - Nasibah Sang Muslimah Sejati

Muhammad Rasulallah

21‏/02‏/2011 · 0 comments

kebahagian itu ada, saat kita hidup dgn orang yang kita sayangi".he...........
berusahalah untuk menyayangi orang lain..karena cinta timbul dari kasih sayang..
tersenyumlah pada setiap orang, karena itu salah satu tanda, bahwa kita penyayang..
seperti untaian kisah mutiara di bawah ini, betapa cintanya rosulalloh pada kita umatnya..!!
lalu.. bagaimanakah cinta kita kepada Rasulalloh  ? apakah cinta kita sama seperti cintanya..?..pernakah kita  untuk membaca selawat selama 30 menit z untuknya ..?
ini adalah salah satu bentuk cintanya Rasulallah pada umatnya.Mudah-mudahan setelah membaca tulisan ini semakin bertambah kecintaan kita terhadapnya amin.

   "_" selamat membaca..semoga bermanfa'at "_"

pada suatau hari malaikat maut(izroil) berseru seraya mengucapkan"
salam. kepada suhibul bait"Bolehkah saya masuk?" tanyanya kepada fatimah. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata
Fatimah yang membalikkan
badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata
sudah membuka mata dan
bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah ayahku,
orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,"
tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan
pandangan yang menggetarkan.
Seolah-olah kebahagian demi bahagian wajah anaknya itu
hendak dikenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan
sementara, dialah yang
memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul
maut," kata Rasulullah,
Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut
datang menghampiri,
tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut
bersama menyertainya.

Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah
bersiap di atas langit
dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia
ini. "Jibril,
jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya
Rasululllah dengan suara
yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka,
para malaikat telah
menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata
Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan
Rasulullah lega, matanya masih
penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya
Jibril lagi. "Khabarkan
kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan
khawatir, wahai Rasul
Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman
kepadaku: 'Kuharamkan surga
bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada
di dalamnya," kata
Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan
tugas. Perlahan ruh
Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah
bersimbah peluh,
urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit
sakaratul maut ini."

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali
yang di sampingnya
menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
"Jijikkah kau
melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?"
Tanya Rasulullah pada
Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang
sanggup, melihat kekasih
Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar
kemudian terdengar Rasulullah
mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat
nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini
kepadaku, jangan pada
umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan
dadanya sudah tidak
bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu,
Ali segera
mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis-shalaati, wa
maa malakat aimaanukum
- peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang
lemah di antaramu." Di
luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan,
sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali
kembali mendekatkan
telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii, ummatii,
ummatiii!" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi
sinaran itu. Kini,
mampukah kita mencintai sepertinya? Allaahumma
sholli 'alaa Muhammad wa
baarik wa sallim 'alaihi.

pass :123456
READ MORE - Muhammad Rasulallah

About Me

صورتي
Hi Guys.. Salam kenal dari ane. Orang Misterius yang telah hadir di tengah-tengah kehidupan kalian, pada hari senin tepatnya di daerah Bekasi, dengan hobi engga betah tinggal dirumah, serta lebih suka makan di rumah orang lain hehe. Adapun hal yang paling di benci dlm hdup menunggu sesuatu yang g pasti dan duduk berdampingan dgn org yg merokok.

Discus With Me

Silaturahmi

  
 
Top

PESONA MESIR | Copyright © 2011 All right reserved.
Black Eleganisme Blogger Template | Designed By Serba Blog